<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041</id><updated>2011-07-28T16:30:25.880-07:00</updated><title type='text'>Canary Road</title><subtitle type='html'>"Many of life's failures are people who did not realize how close they were to success when they gave up." 
- Thomas Edison</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>17</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3670481426710364987</id><published>2010-05-24T23:47:00.000-07:00</published><updated>2010-05-24T23:51:30.596-07:00</updated><title type='text'>Setetes Air di Hamparan Pasir</title><content type='html'>Sebuah taman bermain dipinggiran Suburb Summer Hill adalah tempat saya bermain dulu sepulang sekolah. Modal saya Cuma bola tenis kecil yang saya lempar dan tendang kesana kemari. Di waktu musim panas, saya bermain agak lebih lama karena matahari tenggelam jam 7-8 malam. Saya biasa menghabiskan sisa waktu bermain itu untuk duduk di sebuah bangku taman. Saya tidak pernah membawa makanan atau minuman, saat itu jajan saya Cuma 2 dollar sehari yang biasanya sudah saya habiskan disekolah untuk makan siang dan jajan permen. Hanya beberapa tahun sebelumnya pada jam-jam yang sama, saya biasanya sedang duduk di sebuah mushalla atau surau di sudut kota Bogor. Aki atau kakek adalah orang yang menggiring saya kesana setiap sore menjelang Maghrib sampai Isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbiasa dididik oleh kakek dari segi agama. Surau adalah tempat saya menghabiskan waktu dimasa kecil. Ustad Idik adalah guru ngaji yang ditugaskan oleh almarhum kakek untuk menggembleng saya dalam memahami ilmu agama dan tulisan-tulisan Arab dalam Al-Quran. Dalam mengajar Ustad Idik selalu ditemanin sahabatnya yang paling setia, sebuah potongan kayu tipis yang panjangnya hampir satu meter yang ia letakkan disampingnya. Tidak ada fungsi lain dari kayu itu selain untuk diayunkan pada lengan atau pundak saya jika tulisan Arab itu berulang-ulang dibaca dengan salah. Adanya potongan kayu itu adalah atas restu dan inisiatif kakek, bahkan kayu itu sudah kakek siapkan saat ia menyerahkan saya ke Ustad Idik. Saat ia mengantarkan saya, kakek mengatakan kepada pak ustad untuk menggunakan kayu itu sesuka hati karena diujung kayu itu terdapat pagar yang dapat menjaga saya agar tak terjatuh saat menyebrangi titian ‘jalan yg lurus’ diakhirat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fort Street adalah sekolah konservatif dibilangan barat kota Sydney. Konservatif dan memiliki tradisi yang kuat. Sekolah itu meluluskan putra-putri terbaik negeri itu, mencetak beberapa Perdana Menteri, Gubernur Jenderal, dan politikus-politikus liberal yang kini banyak diantaranya yang menghiasi kursi Parlemen di Canberra. Dibalik ke-konservatifannya, adalah tradisi Kristen yang mendarah daging. Cara pandang liberal dan Kristen itu menyatu, menciptakan ‘fanatisme’ tersembunyi dibalik almamaternya. Agar dapat mengikuti entry test ke sekolah itu haruslah menjadi top 10 persen di Negara bagian New South Wales. Waktu saya dinyatakan diterima, orang tua saya meminta temannya untuk menerjemahkan surat dari sekolahan untuk memastikan bahwa saya benar-benar diterima, kenapa? Karena mereka tidak yakin akan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat sekolah disana, saya mengikuti juga kegiatan ekstrakurikuler yang tidak lazim dilakukan orang Islam, terlebih dengan didikan Islam yang keras dari kakek saya. Kegiatan ekstra kurikuler itu adalah siraman rohani agama Kristen. Saya mengikutinya karena didasari oleh dua hal. Satu adalah karena merasa tidak enak pada sahabat saya seorang Korea bernama Sung Ahn yang menginginkan saya mengikuti agamanya, yang kedua adalah rasa keingintahuan saya yang besar. Saya tidak akan menceritakan apa yang terjadi disana, namun sekolah itu juga membentuk cara pandang saya terhadap banyak hal, terutama kehidupan. Sung pernah mengatakan,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu adalah orang terbaik yang saya kenal, dan alangkah indahnya jika kamu juga menjadi bagian dari apa yang kami anut”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya tersenyum dan bayangan sepenggal kayu milik ustad Idik pemberian kakek seketika hadir didepan wajah saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan ada banyak orang yang akan memahami cara saya berfikir, terutama jika orang itu memiliki ‘fanatisme’ tersendiri terhadap nilai yang ia anut. Namun bertemunya dua nilai itu sempat menggoncangkan hidup saya dan merupakan pukulan yang hebat ketika dihadapkan pada realita yang ada. Menjadikannya sebuah beban yang maha berat yang masih terbawa hingga kini…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(To be continued)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3670481426710364987?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3670481426710364987/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2010/05/setetes-air-di-hamparan-pasir.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3670481426710364987'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3670481426710364987'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2010/05/setetes-air-di-hamparan-pasir.html' title='Setetes Air di Hamparan Pasir'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3686374349432532959</id><published>2009-07-31T00:04:00.000-07:00</published><updated>2009-07-31T06:37:28.179-07:00</updated><title type='text'>Jalan Kenari II (End)</title><content type='html'>Jika sungai Potomac mengalir dan berakhir di tempat saya dibesarkan, niscaya akan saya telusurinya. Semakin jauh jaraknya semakin lama saya bisa melupakan hiruk pikuk kehidupan, dan kala pada akhirnya berakhir, semua orang sudah tua atau sudah mati, sudah lupa, dan sudah mengindahkan apa yang dibicarakannya kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi kenyataannya tidak demikian, saya telah kembali ke Jakarta dan menghabiskan sebagian waktu di Bangkok. Entah kenapa Ibukota Thailand itu tidak terlalu mengesankan seperti dulu. Saya pikir suasana hati sangat besar berperan mewarnainya menjadi abu-abu yang kelam, terpinggirkan, dan tak terhiraukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta saya kepada perempuan itu tidak sepanjang jalur sungai Potomac yang membelah kota Washington, atau sedalam Chao Phraya yang menghujam kota Bangkok, cinta itu melebihinya. She's all I have. Tapi hidup memiliki alur cerita yang tak terduga, begitu misterius dan kadang menusuk ke lubuk hati yang terdalam. Kini saat saya menjalankan apa yang selama ini ia inginkan, dia sudah berlalu dan membisu. &lt;br /&gt;Mentertawakan saya di social networking site kesayangannya, hilarious though…I actually smile whenever I look at her comment, saya mengagumi cara ia menuliskannya, she’s witty, the way she puts me down in front of my friends and the public is like a cold blooded assassin and I enjoyed it, that applies to those pair of eyes that kills me every time she puts her head down, blushing…killing my conscience, loosing direction, and unaware of where I was. I can still feel her lips on mine, so gentle so sweet, nothing can beat that in my life time.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I’m all alone now, as predicted, menelusuri alur kehidupan dibelantara mimpi dan kenyataan sendirian. I couldn’t have made a quick decision at the time to be with her when I had the chance, I had debts to pay, but she didn’t understand my message. I have committed myself to my promise for her, but it seems the ship has drifted away into the middle of the raging sea of anger.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika sungai Potomac mengalir sampai tempat saya dibesarkan, di Jalan Kenarilah ia akan berakhir. Tak akan ada titian yang dapat menyebranginya, ia adalah ikatan hati ke hati yang takkan runtuh dimakan zaman. Crescent, will leave peacefully and seek a beautiful life, and Canary Road will witness a journey of two hearts and shed of tears of two lovers who shall not end, though not together…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;This will probably be the last of my life story...I seek no interest in continuing to write for she was the reason I write in the first place...now I have no reason to do so. It's been an exciting journey but I will have to say goodbye.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;strong&gt;"Once you asked me to choose; my life or your life? I choose mine for now and will seek you when I’m done, but then you left not knowing you are my life" &lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;End~&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3686374349432532959?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3686374349432532959/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/07/canary-road-ii.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3686374349432532959'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3686374349432532959'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/07/canary-road-ii.html' title='&lt;strong&gt;Jalan Kenari II&lt;/strong&gt; (End)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3078339558199259002</id><published>2009-06-22T04:44:00.000-07:00</published><updated>2009-06-22T05:39:28.871-07:00</updated><title type='text'>crescent</title><content type='html'>crescent&lt;br /&gt;light bestowed upon your side&lt;br /&gt;for I am the other half,&lt;br /&gt;dark and unseen..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Bangkok sometime in May&lt;/em&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3078339558199259002?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3078339558199259002/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/06/crescent.html#comment-form' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3078339558199259002'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3078339558199259002'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/06/crescent.html' title='crescent'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-8424133919128793896</id><published>2009-03-26T18:34:00.000-07:00</published><updated>2009-06-19T21:17:00.511-07:00</updated><title type='text'>Jalan Kenari (Part I)</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“For those who can dream, nothing is faraway..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung Salak berdiri kokoh di selatan kota Bogor dengan tujuh undakkannya yang menjadi ciri khas gunung itu. Kalau dari bekas rumah saya di Pasirkuda, jika hari sangat cerah, tujuh gundukan yang terkenal itu terlihat jelas, ketujuhnya menurun dan memagari kawah bekas letusannya yang terakhir di tahun 1938 yang menghasilkan erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri&lt;br /&gt;Gunung itu masih aktif kini, dan jika meletus sekarang, Sukabumi-lah yang akan paling merasakan hantamannya karena posisinya yang lebih rendah, walaupun sudah dipastikan, Bogor tidak akan luput dari efek letusannya, karena tujuh gundukan gunung itu sesungguhnya memagari sisi Sukabumi dan menyisakan pagar yang jauh lebih “pendek” yang menghadap ke Bogor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gunung itu terlihat lebih indah jika dilihat dari sisi Selatan Kebun Raya, terutama dibawah pohon beringin yang paling rindang bersebelahan dengan pagar Istana. Kalau anda pernah berjalan mengelilingi putaran pagar kebun raya, anda akan berjalan diatas jejak langkah saya yang sudah mengililinya entah berapa kali. Sisi Selatan adalah favorit saya karena Gunung Salak dapat terlihat dengan jelas, dikombinasikan dengan halaman utara Istana Bogor yang dihiasi kijang-kijang istana jika menghadap ke arah gunung itu, simply spectacular...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Kenari melingkar disisi Selatan Kebun Raya, jalan itu adalah jalan favorit Sir Stamford Raffles dalam menghabiskan waktu senggangnya, jejak langkahnya disitu juga diikuti oleh jejak langkah saya yang menjadikan jalan itu tempat untuk menyendiri, dipojok jalan Kenari disebuah bangku kecil yang usang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Washington setelah dua tahun saya tinggalkan, mengingatkan saya pada jalan itu. Jalur dari Abraham Lincoln Memorial sampai ke the Smithsonian Airspace Museum memiliki nuansa yang hampir sama dengan Jalan Kenari, paling tidak apa yang saya rasakan memiliki kemiripan, dingin dan tak tersentuh. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup memiliki nuansa yang aneh dan kesendirian membangunkan alam bawah sadar kita akan apa yang sebenarnya kita rasakan saat itu. Saya kini merasakannya, berjalan underneath the beautiful crescent...it is indeed beautiful yet unreachable...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;To be continued&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-8424133919128793896?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/8424133919128793896/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/03/jalan-kenari-for-those-who-can-dream.html#comment-form' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/8424133919128793896'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/8424133919128793896'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/03/jalan-kenari-for-those-who-can-dream.html' title='Jalan Kenari (Part I)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-2277939107115234230</id><published>2009-03-23T01:09:00.000-07:00</published><updated>2009-03-23T01:58:33.516-07:00</updated><title type='text'>Summer Hill III -End</title><content type='html'>Seingat saya, pada saat itu adalah musim dingin di tahun terakhir kami bersama di Fort Street. Winter Camp adalah saat dimana kami satu angkatan mempererat jalinan persahabatan satu sama lain dengan acara jalan-jalan dari daerah kami yang dingin ke tempat yang jauh lebih dingin, mungkin maksudnya agar kami lebih dempet-dempetan supaya lebih “hangat”. Namun bagi saya Winter Camp adalah ladang penyiksaan jasmani yang tak terkira. Menaiki dataran tinggi disaat temperatur udara bisa mencapai satu sampai lima derajat di pagi hari. Sungguh menyiksa bagi orang tropis seperti saya.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Nigel Boney sangat berseberangan dengan saya dalam hal ini. Dia suka cuaca dingin. “I love winter to death” katanya. Saya sih tahu kenapa dia begitu mencintai winter. Dia mencintai musim ini tidak lain karena dia bisa bergaya dengan koleksi jaket NBA nya. Nigel seorang pebasket mungil alias pendek, tapi lihai memainkan bola, sayangnya dia terlalu pendek jadi tidak pernah masuk tim sekolahan. Setiap winter, Nigel berganti jaket setiap harinya, dipadu dengan topi khas NBA juga. Atribut NBA seperti jaket dan topi diperbolehkan oleh sekolah asal tetap menggunakan seragam kemeja putih dan celana panjang abu-abu dipadu dengan dasi warna marun, dan sweater yangjuga berwarna marun, warna kebangsaan Fort Street.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, kami berangkat dengan kereta dari stasiun Petersham menuju Central. Lalu berganti kereta yang menuju kearah Barat. Saya sudah lupa tempat tujuan kami, namun kalau tidak salah, tempat itu lumayan jauh dan ditempuh dengan 2 jam perjalanan dari Sydney. Winter tahun itu memang sengaja dibuat “semeriah” mungkin, karena merupakan tahun terakhir kami di sekolah itu. 5-6 bulan kedepan, kami akan meninggalkan Fort Street untuk selama-lamanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lokasi camping kami adalah daerah pegunungan, dan layaknya pegunungan di benua itu, kita tidak bisa menemui beragam pohon, pohonnya ya yang itu itu saja, dan ada beberapa jenis lain yang kurang dominan. Gum tree, adalah nama pohon itu, daunnya biasa jadi makanan koala yang tidak bosan-bosannya mengunyah daun pohon itu. Kami menyebut Nigel juga dengan sebutan koala, karena ia begitu lambaaat terutama dalam hal berjalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nigel pulalah yang hampir membuat kita semua mati pada acara camp itu. Semua diakibatkan cara lari dia yang lambat. Sehebat-hebatnya dia memainkan bola basket, kenyataannya dia tidak pernah masuk timnas sekolahan, bahkan sekelas cadangan. Bukan saja karena ia pendek untuk ukuran pebasket, tapi karena ia sangat lambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide menyelinap dari camp tentunya berasal dari Eric Paul, siapa lagi? Walaupun sebenernya kita tidak diizinkan berkeliaran karena hari sudah hampir senja. Tapi kami nekat, walaupun tidak mengenal kondisi lapangan dengan baik tapi darah muda kami haus akan petualangan, mengeksplorasi wilayah itu, dan tentunya untuk merokok sepuasnya tanpa ketahuan guru dan teman-teman yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa bukit kami lalui sambil bercanda dan tertawa, sekali-sekali kami berhenti menunggu Nigel. Sung Ahn yang paling perhatian pada anak boncel itu, pada dasarnya Sung perhatian pada kami semua dan kadang berlebih, ya dia memang pada dasarnya anak yang paling perhatian diantara kita semua. Tidak berapa lama kami menemukan trek atau rel kereta api yang menuju sebuah terowongan kereta sekitar 100 meter dari pandangan kami setelah menuruni sebuah bukit. Eric Paul berjalan paling depan dan kami mengikutinya menuju terowongan itu. Di bibir terowongan itu kami semua berhenti dan memandang jauh keujung terowongan itu. Ada sinar terang diujungnya, berarti masih terlihat ujung dari terowongan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian berani masuk terowongan ini sampai keluar diujungnya?” Tanya Erik. Kami saling bertatap-tatapan sambil berpikir. Berpikir karena takut terowongan itu lebih panjang dari yang kita kira, takut akan kemungkinan ada kereta yang melintas aat kita menelusurinya. Bukan apa-apa, trek nya cuma satu! Tidak mungkin kita menghindar ke rel yang kosong jika ada kereta lewat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, kalian penakut!” seru Erik. “Di tempat terasing seperti ini yang sampai-sampai tidak ada kanggurunya, berapa kali seminggu sih kereta lewat sini? Paling sekali! Lagipula ini trek kereta barang, treknya Cuma satu! Ayolah…” bujuk Erik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah bagaimana, tahu-tahu kami sudah berada di terowongan kereta itu. Bulatan putih yang kami anggap ujung terowongan itu ternyata masih jauh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Teman-teman, aku punya perasaan gak enak, terowongan itu ternyata jauh sekali yah, dan sangat gelap disini” Leo Poljack bergumam. Leo adalah yang terbesar diantara kami tapi yang paling penakut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ah, sudahlah, kita nikmati petualangan ini ok!” Erik mencoba menenangkan kita semua. Saya saat itu cuma ingin buru-buru sampai diujung terowongan gelap ini, bukan apa-apa, takut ada kereta!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba Nigel berteriak, “Guys!..oh my God” teriak Nigel…”kayaknya aku mendengar suara kereta…! Kami berkonsentrasi, dan Nigel ternyata benar, samar-samar kami mendengar suara klakson kereta yang khas terdengar dan sudah pasti sebentar lagi akan memasuki terowongan ini. “Toooooaaaaaaaat…!!!” bunyi yang nyaring itu semakin mendekati terowongan. Saat itu juga kami tidak berpikir apa-apa tetapi Cuma berteriak “LARI!!!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kami mungkin saat itu sudah melewati setengah jalan terowongan itu, karena saya ingat kami sudah berjalan cukup lama. Kami berlati sekuat tenaga, saya menoleh ke belakang dan kereta itu sudah masuk kedalam terowongan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric Paul adalah seorang sprinter dia berlari paling depan karena dialah yang tercepat menyusul kami dibelakangnya dan Nigel Boney berlari dengan susah payah, dia berada paling belakang. “Come oooon guys…run for your life!!” kami semua lari secepat mungkin dan semakin mendekati ujung terowongan itu, tapi Nigel begitu lambat, Eric sempat memperlambat larinya dan berusaha memegang tangan Nigel dan menariknya..”run dam it run!” kereta semakin mendekat, hanya beberapa detik kemudian kami berhasil keluar dari terowongan dan berloncatan ke sisi kanan yang ternyata tanah yang landai, kami menghantam semak belukar dan terguling-guling kebawah. Kami semua selamat. Tidak lebih dari 5 detik kemudian kereta barang itu melintas!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman itu sungguh menakutkan. Bahkan sekarang menjadi sebuah kenangan yang takkan pernah kami lupakkan sepanjang hidup kami. Seiring perjalanan waktu ketika kami sama-sama bertemu walau tidak pernak lengkap kami semua hadir, peristiwa itu hampir selalu menjadi “highlight” dari pembicaraan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric adalah satu-satunya yang menetap di Sydney. Dia sekarang menjadi supervisor di salah satu perusahaan printing terbesar di Sydney saat ini dan telah menikahi gadis Filipina yang cantik. Nigel Boney bertugas di Sri Lanka, dia tidak pernah bercerita apa yang dia lakukan disana, canda kami adalah mungkin dia ikut berjuang dengan Macan Tamil hehe…Kuveshen Pather tinggal di Singapura dan menikahi gadis lokal, dia kini menjadi seorang akuntan, sebuah bidang yang memang pernah ia cita-citakan. Leo Poljack bertugas di Manila, Filipina, tidak lama lagi ia akan kembali ke Sydney, berkumpul dengan keluarganya. Sung Ahn menjadi seorang ahli IT di perusahaan Korea. Dia menikahi juga gadis Korea dan kadang menetap di Sydney. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fort Street tetap menjadi sekolah selektif terbaik sampai saat ini. Terakhir kali saya mengunjungi kota Sydney, tidak banyak yang berubah dari sekolahan itu ketika saya melintasi Parramatta Road dan memandangi bagian depan dari sekolahan itu. Tidak jauh pula kearah barat, Summer Hill tetap berdiri dengan anggun, meninggalkan jejak masa lalu saya yang masih tersimpan disana… &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;END&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-2277939107115234230?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/2277939107115234230/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/03/summer-hill-iii-end.html#comment-form' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/2277939107115234230'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/2277939107115234230'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/03/summer-hill-iii-end.html' title='&lt;strong&gt;Summer Hill III -End&lt;/strong&gt;'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-7979077929400314119</id><published>2009-02-15T17:10:00.000-08:00</published><updated>2009-02-17T23:25:27.612-08:00</updated><title type='text'>Summer Hill II</title><content type='html'>“Don’t go to where the path my lead, but go to where there is no path, then lead a trail…” &lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SZkpJcBDZvI/AAAAAAAAACA/FCJ8IZqFWGU/s1600-h/Fort+Street+Calss+of+93_1.jpg"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 130px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SZkpJcBDZvI/AAAAAAAAACA/FCJ8IZqFWGU/s320/Fort+Street+Calss+of+93_1.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5303315278321641202" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Daun-daun berjatuhan di musim gugur diterpa angin dingin dari selatan yang menghembuskan kekuatannya, membangunkan mahluk hidup untuk bersiap menghadapi musim dingin. Langit lebih sering kelabu, diselimuti awan yang tebal dan hujanpun turun lebih sering dibanding musim-musim lainnya.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Taman di Summer Hill jarang saya kunjungi di musim ini. Angin yang berhembus kencang membuat kita menggigil dan membuat bibir menjadi kering dan retak. Rumput yang hijaupun ditutupi oleh daun-daun eucalyptus yang kering dan kecoklatan, sungguh suasana yang menjemukkan. Dari jendela kamar saya, terlihat pohon-pohon seolah digunduli dan menyisakkan ranting-ranting yang membeku seolah meratapi nasibnya, ditinggal oleh daun-daun yang selama ini menyelimutinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu mundur satu jam di musim gugur menjelang musim dingin sesuai pengumuman pemerintah, dan dimulailah hari-hari yang pendek, jam tujuh pagi bagaikan subuh dan jam empat sore matahari sudah hampir tak menampakkan dirinya lagi. Berangkat ke sekolah adalah perjuangan yang berat di musim ini. Menulusuri Sloane St, Summer Hill menurun sampai ke Jalan besar dan menunggu bis di Parramatta Road di tengah cuaca yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya sahabat-sahabat saya lah yang membuat berangkat ke sekolah menjadi agak ringan. Mereka biasanya sudah menunggu di sisi timur Fort Street, di anak tangga yang menuju ke lapangan basket. Disitulah tempat kami berkumpul dan bercengkrama sejak pertama kali persahabatan itu kami bangun dari awal-awal masa sekolah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric Paul, Nigel Boney, Sung Ahn, Leo Poljack, dan Kuveshen Pather adalah sekumpulan sahabat yang selalu menghiasi hari-hari saya kala itu. Ada pula satu orang sahabat kental lagi di sekolah itu, Algius Lencus seorang jenius asal Romania yang agak pendiam, sayang dia tidak pernah bisa bergaul dengan kelompok sahabat-sahabat saya yang lain walaupun ia sering saya ajak bergabung. Si jenius yang aneh, kata teman-teman saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan mereka pula saya belajar merokok, kebiasaaan buruk yang sungguh sukar saya hilangkan. Kenakalan kami sebatas merokok saja, tidak ada satupun diantara kami yang suka membuat onar, bahkan tidak ada satupun diantara kami yang mencoba-coba menggoda teman perempuan Fort Street, walaupun keinginan itu selalu ada dan kerap menjadi perbincangan di sesi makan siang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Coba kalau berani, kamu ajak Ilona Zebrowski makan malam” kata Eric kepada saya. Ilona adalah gadis tercantik disekolahan, seorang gadis Polandia bermata biru dan berambut pirang, dan ya, bisa ditebak, ia adalah primadona Fort Street saat itu. Pernyataan Eric selalu mengundang tawa, ia seperti seorang natural leader di kelompok kami, apapun yang ia katakan hampir selalu mengundang perhatian dan tampaknya ia juga tahu kalau saya suka gemetaran bila berada disamping perempuan cantik seperti Ilona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eric dan teman-teman yang lain tidak tahu, kalau disuatu siang dikelas, Ilona pernah menghampiri saya dan duduk disebelah bangku saya. Sungguh itu adalah momen yang langka, padahal saya lumayan mengenal Ilona karena beberapa kali berada satu kelompok dengan gadis itu dalam tugas sekolahan. Memang, sekenal-kenalnya saya pada dirinya, tidak pernah sekalipun kami membicarakan masalah pribadi kecuali yang bersifat basa-basi dan yang berhubungan dengan tugas sekolahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah dihari itu, tiba-tiba dia menyapa sambil sedikit memiringkan wajahnya yang ditopang oleh tangannya. Terlihat jelas matanya yang biru dan agak sayu…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh, maaf yah, tapi kamu tahu gak, kamu tuh orang Asia yang paling cute yang pernah saya lihat”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika anda punya pengalaan tersetrum listrik di rumah, maka hal itulah yang saya rasakan saat itu, badan tiba-tiba menjadi kaku dan udara dingin berubah menjadi panas. Saya cuma bilang kepadanya bahwa dia sedang “day dreaming”, tapi Ilona melemparkan senyumnya yang bisa membunuh kaum adam manapun di muka bumi dan mengatakan bahwa sudah lama ia ingin mengatakannya, dan dia juga bilang kalau ucapan itu tak bermaksud apa-apa selain karena ia adalah orang yang tidak dapat menyembunyikan apa yang ada dalam benaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“That’s fine” timbal saya sambil memasang muka kalem. Padahal itulah salah satu momen terpenting dalam hidup saya. Seumur-umur tidak pernah ada satu perempuanpun yang mengatakan hal seperti itu, terlebih dari seorang Ilona Zebrowski. Tapi saya tidak pernah menceritakan hal ini pada Eric Paul, apalagi pada Kuveshen Pather yang terkenal kocak dan rajin mencela itu. Sudah pasti, tidak akan ada yang mempercayainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Satu orang yang mungkin percaya adalah Sung Ahn, si Korea relijius itu. Diantara kami, dia adalah orang yang hampir tidak pernah mencela, kata-katanya tersusun rapi bak sebuah pidato kenegaraan yang sudah disusun oleh protokoler gedung putih. Jika ada satu hal yang selalu saya ingat tentang Sung, adalah dia kerap mengajak saya untuk mengikuti jejaknya menjadi seorang Katolik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja dia selalu mengajak berdialog seputar masalah agama dan ke-Islaman saya. Tapi saya sangat mencintai Sung sebagai seorang sahabat, sehingga saya selalu meladeni obrolan seputar agama ini dengan tenang dan menjauhi perdebatan. Tidak pernah sekalipun ia menghina atau memojokkan agama saya. Saking menghormati Sung sebagai sahabat, saya pernah juga mendaftarkan diri untuk bergabung dengan kegiatan ekstra kurikuler agama yaitu kelas “siraman rohani” Katolik hanya karena Sung membujuk saya berkali-kali. Sungguh saya mengikuti kelas itu hanya karena saya tidak sampai hati pada Sung yang tak kenal lelah ingin “mengkonversi” saya menjadi penganut agamanya. Sampai sekolah berakhir saya selalu mengingatkan dia untuk tetap menjadi seorang Katolik yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“So is there a change of heart?” katanya diakhir masa sekolah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya hanya terseyum sambil menyalaminya, “Everthing stays the same, just like our friendship that I’m sure will last till the end”. Sung terlihat tegar walaupun terasa ada sedikit kekecewan di wajahnya. “Kamu orang terbaik diantara yang lain, karena itu saya merasa ada sesuatu yang harus melengkapinya, I’m sorry” katanya…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan kami berlangsung sampai saat ini walaupun mereka hanya sering saya jumpai di Facebook, dan pernah pula saya sempat menjumpai Eric di Sydney. Saya hanya bisa menjumpai dia, karena yang lain sudah bertugas dimanca negara. Pada pertemuan itulah kami mengingat satu momen yang membuat kami menjadi lebih erat, sebuah momen yang takkan terlupakan sepanjang hidup kami, karena hampir saja kami berenam menjadi hanya tinggal nama alias mati bersama-sama. Kejadian itu terjadi pada saat kami berenam terlibat dalam acara camping sekolahan di pegunungan di selatan Sydney, sebuah kejadian fatal yang diakibatkan oleh ketololan kami sendiri…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(To be continued…)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-7979077929400314119?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/7979077929400314119/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/02/summer-hill-ii.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/7979077929400314119'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/7979077929400314119'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/02/summer-hill-ii.html' title='Summer Hill II'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SZkpJcBDZvI/AAAAAAAAACA/FCJ8IZqFWGU/s72-c/Fort+Street+Calss+of+93_1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3243292070191761191</id><published>2009-02-06T01:19:00.001-08:00</published><updated>2009-02-16T00:45:26.715-08:00</updated><title type='text'>Summer Hill</title><content type='html'>&lt;em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;“If only we could fall, like the cherry blossoms in the spring,&lt;br /&gt; so pure…so radiant…”&lt;/strong&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Summer Hill adalah sebuah Suburb kecil di bilangan Western Sydney. Sebuah Suburb yang sunyi dipagari oleh pepohonan yang rindang. Summer Hill terbagi menjadi dua wilayah, terpisah oleh trek kereta api dan sebuah stasiun. Kawasan yang satu adalah kawasan komersil yang terdiri dari supermarket, toko-toko, gereja, dan sekolahan, sedang  yang diseberangnya adalah kawasan pemukiman dimana saya tinggal. Wilayah pemukimannya tidak terlalu luas, sangat dimaklumi dengan jumlah penduduk Australia yang sangat kecil dibanding dengan jumlah penduduk kota-kota di Indonesia, sebuah Suburb biasanya tidak dihuni oleh terlalu banyak penduduk, sehingga selalu ada ruang yang luas yang biasanya dipakai pemerintah lokal untuk dijadikan taman atau fasilitas umum lainnya. Dan memang ada sebuah taman yang luas jika kita menyebrangi stasiun kereta melalui sebuah under pass tidak jauh dari tempat saya tinggal dulu, sebuah flat kecil berkamar dua di Sloane St. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Pada usia saya saat itu, saya cenderung penyendiri dan menghabiskan banyak waktu di taman itu, entah mermain-main dengan bola tenis atau hanya duduk-duduk saja di bangku taman memikirkan sesuatu. Kata teman-teman, saya terlalu banyak menghabiskan waktu merenung, memikirkan hal yang sepele dan menganggapnya seperti masalah yang patut dibahas di Parlemen. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti, taman itu banyak menyimpan kenangan, dan ada cita-cita untuk kembali kesana hanya untuk duduk di bangku taman itu dan menonton anak-anak kecil bermain atau orang-orang yang berlalu lalang seperti yang sering saya lakukan belasan tahun yang lalu setiap sore. Menyaksikan apa yang terjadi, lalu berpikir tentang banyak hal. Sungguh sesuatu yang sederhana, tetapi menakjubkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalian adalah orang-orang Fort Street, kalian terlalu banyak berpikir, bersenang-senanglah sekali-sekali!” itu adalah pernyataan standar orang-orang Sydney kepada kami dulu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fort Street adalah sekolah selektif tertua di Australia, dan wadah bagi top 10 persen di New South Wales yang diuji lagi, lalu diambil sepersekiannya. 100% dari angkatan kami dulu lulus Ujian Negara dan berkiprah di Universitas-Universitas terbaik di negeri itu. Mantan Perdana Menteri Australia John Howard adalah salah satu icon alumni sekolah itu disampiang ratusan lagi yang menjadi tokoh-tokoh publik terutama politisi dengan tradisi ideologi Liberal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat meneteskan air mata saya ketika menerima surat dari New South Wales Education Board yang menyatakan saya diterima disalah satu universitas di Sydney…menangis karena ayah mengatakan bahwa dirinya tidak akan sanggup membiayai saya kuliah karena ia sudah di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah gak sanggup….pulanglah, sekolahlah disini, di negaramu sendiri…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata yang meruntuhkan tembok yang telah saya bangun selama bertahun-tahun di Fort Street, bergelut dengan ilmu.dengan susah payah. Ilmu yang saya bawa pulang dari sekolahan yang selalu saya bawa ke taman itu untuk direnungi, dipikirkan. Harus saya bawa karena saya yakin saya bukan orang yang pintar, dan dapat menerima sebuah penjelasan dengan sekali tepuk. Kata teman-teman, saya lumayan telmi alias telat mikir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata ibu saya dulu diantara saudara-saudara saya di keluarga besar, saya yang paling lambat belajar berjalan dan yang paling lambat belajar bicara. Tapi sekalinya bisa, saya tidak hanya berjalan, tetapi langsung berlari sampai akhirnya terjatuh…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(To be continued…)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3243292070191761191?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3243292070191761191/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/02/summer-hill.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3243292070191761191'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3243292070191761191'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/02/summer-hill.html' title='Summer Hill'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3519317268158710762</id><published>2009-01-26T22:05:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:46:30.529-08:00</updated><title type='text'>The American From Denpasar (Part II)</title><content type='html'>Adam adalah sarjana Antraopologi dan mendapat tugas penelitian di Denpasar pada saat ia masih menjadi mahasiswa di sebuah perguruan tinggi di Amerika Serikat. Ia langsung jatuh cinta pada Bali dan Indonesia tentunya. Lucunya, pada saat ia diharuskan memilih negara tujuan penelitian, dia memilih Swiss karena ia tahu betul keindahan negri Eropa itu. Tapi sayang, sudah ada mahasiswa lain yang memilih Swiss sebagai tujuan belajar. Pada saat itulah dosennya menganjurkan ia untuk memilih Indonesia.&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;“Indonesia?” katanya heran. Adam hampir tidak pernah mendengar apapun tentang negara itu. Sewaktu di Bangkok dia bercerita, bahwa ketika dia pulang ke rumah hari itu, hal yang pertama ia lakukan adalah membuka peta dan mencari lokasi Indonesia. Negara itu bagaikan sebuah negri antah berantah baginya. Awalnya ia kehilangan semangat, tetapi pada akhirnya mau tidak mau dia terbang juga dan memulai tugasnya di Bali. Pada kesempatan itu pulalah Adam sempat mengunjungi daerah lain selain Bali, dan tidak butuh waktu yang lama baginya untuk jatuh cinta pada Indonesia, terutama gaya pergaulan anak-anak mudanya yang katanya “asik-asik aja” alias “easy come easy go”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedutaan Amerika Serikat di Merdeka Selatan adalah tempat dimana kami dipertemukan. Entah dari berapa ratus orang peneliti yang dihubungi dan menciut menjadi 20 orang, kami para peneliti mendapat giliran wawancara setelah ujian demi ujian yang kami lalui. Dari 20 itu kemudian menciut menjadi lima dan kemudian menjadi tiga. Dari tiga itu akan diambil 2 orang yang akan diterima dan langsung diterbangkan ke Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat itulah, setelah beberapa kali wawancara, saya sudah mulai yakin bahwa saya akan menjadi salah satu dari dua orang ilmuwan Ilmu Politik yang akan terpilih. Kenapa saya begitu yakin? Pada wawancara terakhir itu Adam mendadak “Indonesia”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sudahlah, capek juga yah ngobrol dalam bahasa Inggris, kita pake bahasa Indonesia aja yah” katanya. Saya terbengong-bengong mendengarkan ucapannya yang Crystal Clear ke-Indonesiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya kalau bapak mau” sambil mengenyeritkan dahi. Dia tersenyum, dan mengatakan bahwa dia masih seumuran dengan saya dan tidak usah memanggil dia dengan sebutan bapak. Lalu semuanya menjadi sangat ringan, kita ngobrol sambil tertawa. Tawa kami hampir dapat terdengar keluar ruangan karena setelah saya selesai salah satu asisten disana bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hmm wawancaranya seperti teman lama yang sudah lama tidak berjumpa yah” kata asisten perempuan setengah baya itu. Saya hanya tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Obrolan kita tidak jauh dari obrolan sehari-hari yang akan diingat sepanjang masa. Saya ingat ketika dia bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eh kamu kan dari Bogor, pernah naek gunung Salak nggak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah, bukan pernah lagi, seriiiing” saya jawab tanpa memberitahu dia bahwa saya bahkan sudah mendaki gunung itu waktu liburan kelas 6 SD sendirian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya udah, tar ajak saya yah, saya udah coba Gede, Pangrango, sama gunung-gunung lain di Jawa, anehnya Gunung Salak justru saya belum haha..”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu obrolanpun mengalir, dan saat itulah saya berfirasat bahwa orang ini akan menjadi seorang sahabat dikemudian hari, dan memang demikianlah keadaannya selanjutnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hanya berselang beberapa hari setelah proses seleksi yang memakan waktu berbulan-bulan itu usai, telepon saya berdering ditengah kesibukkan penelitian yang saya lakukan untuk Assessment Groups International.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo Dud, passport-mu masih valid kan?” kata suara dari seberang sana&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ya..” saya jawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“ok, come and see Miss Andretti at the Embassy first thing tomorrow, and see you in Bangkok!” katanya. Saya masih tertegun saat itu ketika Adam mengatakan..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hey, are you excited?... jangan lupa Indomie sama rendang-nya yah…inget, dari restoran Sederhana…!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;~ end&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3519317268158710762?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3519317268158710762/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/01/american-from-denpasar-part-ii.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3519317268158710762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3519317268158710762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/01/american-from-denpasar-part-ii.html' title='The American From Denpasar (Part II)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-4127920548920253609</id><published>2009-01-12T17:32:00.000-08:00</published><updated>2009-02-16T00:43:35.795-08:00</updated><title type='text'>The American From Denpasar (Part I)</title><content type='html'>&lt;em&gt;“Rest yourself satisfied by doing well and leave others do as they please”&lt;br /&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Phytagoras&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Watergate adalah sebuah hotel di Washington DC, hampir bersebrangan dengan Georgetown University, sekolah impian para sarjana ilmu politik termasuk saya sendiri. Sebelah barat hotel itu menghadap ke sungai Potomac yang membeku dikala musim dingin. Jika anda membuka kamar hotel itu dan kebetulan anda mendapat kamar yang menghadap ke barat, maka sungai Potomac akan terlihat sangat jelas membentang membelah Washington. Jika anda berjalan kurang lebih 7 kilometer ke arah timur dan menyusuri taman kota, anda akan sampai di Capitol Hill, salah satu simbol demokrasi negara adidaya itu. &lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Washington akan terlihat lebih indah pada musim gugur, ketika daun Mapple berubah menjadi merah menyala seperti api. Jika dilihat dari udara, kalau kita akan mendarat di Bandara Dulles International dan melongok keluar jendela, kumpulan pohon-pohon mapple yang merapat itu terlihat seperti lukisan seorang maestro, kombinasi merah menyala dan oranye dihamparan rumput nan hijau membentuk lukisan yang tak dapat dinilai harganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah ketukan di pintu kamar saya di Watergate membangunkan saya dari lamunan. Adam Canby, adalah seorang sahabat lama yang dulu bertugas di Kedutaan Besar Amerika Serikat di Bangkok. Masih seperti dulu, dengan kepalanya yang pelontos dan tinggi badannya yang tidak terlalu tinggi untuk ukuran orang Amerika, ia menyapa saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan ada yang percaya bahwa dia orang Amerika kalau anda belum pernah bertemu dengan Adam lalu berbicara lewat telepon, dan mengobrol dalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesianya sudah seperti layaknya orang-orang Indonesia berbicara sehari-hari, tidak ada kekakuan pada lidahnya. Yang lebih mencengangkan lagi, dia doyan rendang dan teh botol, dan lebih parah lagi dia doyan indomie dan pernah meminta saya membawakan satu kardus penuh indomie dari Jakarta untuknya ke Bangkok.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita mengobrol di hotel sampai larut malam, membicarakan banyak hal tentang masa lalu sampai membahas kemungkinan kamar yang saya tempati adalah kamar yang sama dimana skandal Watergate yang menjatuhkan Presiden Richard Nixon dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“kamu bawa indomie gak…haha” katanya yakin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“hey, ini bukan Dong Muang Bangkok, jangankan indomie, kalau ada kecoa yang ikut koper saya aja gak bakalan lolos custom sini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adam tertawa, kemudian menghisap rokok kretek pesanannya yang saya bawakan. Orang seperti dia inilah yang kadang membuat saya menyesali keputusan untuk meninggalkan pekerjaan di pemerintahan Amerika Serikat. Orang-orang Amerika yang unik, yang mungkin dilatih untuk menjiwai bangsa asing sampai ke bahasa tubuhnya. Demikian pula Adam, saking menjiwainya ia menjadi lebih Indonesia daripada orang Indonesia sendiri. Adam yang kini menjabat Deputy Bureau Chief di New Delhi India, dulu pernah saya ajak jalan-jalan di Bogor naek angkot dan makan hidangan Sunda di Jalan Padjadjaran dan melahap habis makanannya, dan lebih hebat lagi, dia tidak menggunakan sendok alias langsung dari tangan ke mulut layaknya kebanyakan dari kita orang Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu pengalaman yang unik, ketika saya menginap di Apartemennya di Bangkok, kebetulan ada salah satu teman kita juga orang Australia, Joe namanya yang ikut menginap. Dia ini sejenis Adam yang ke-Indonesiannya kadang melebihi kita-kita. Dalam salah satu momen, kedua orang bule itu mengobrol di balkon rumah Adam dan terlibat obrolan yang seru dalam bahasa Indonesia. Saya yang sedang menikmati hidangan di meja makan sempat melongok keluar sambil mendengarkan pembicaraan kedua orang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keduanya menghisap rokok kretek, dan saya ingat salah satu pembicaraan mereka adalah seputar restoran mana yang paling enak di Jakarta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“wah, bapak belum pernah ke daerah Sentiong, disitu ada sop kambing yang mantep” kata Adam&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“eeh aku tau itu Dam…tapi lebih enak lagi yang di daerah Wahid Hasyim..wuiih…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya Cuma terbengong-bengong mendengarkan obrolan mereka, lha saya aja gak tau tuh ada sop kambing yang enak di Sentiong…ada-ada saja melihat dua orang bule ngobrol dalam bahasa Indonesia sambil membicarakan restoran di Jakarta andalan masing-masing sambil menghisap roko Kretek, dan lebih mencengangkan lagi mereka memanggil satu sama lain dengan sebutan “pak” alias “bapak”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang seperti merekalah yang membuat saya jatuh cinta pada pekerjaan saya terlepas dari kontroversi yang menyelimutinya. Kami adalah sekumpulan orang-orang dengan cara pandang yang berbeda, dan perbedaan itu pulalah yang juga banyak menimbulkan masalah dan peristiwa-peristiwa yang mengharukan sekaligus menegangkan dalam perjalanan hidup kami…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(To be continued…)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-4127920548920253609?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/4127920548920253609/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/01/american-from-denpasar-part-i.html#comment-form' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4127920548920253609'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4127920548920253609'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2009/01/american-from-denpasar-part-i.html' title='The American From Denpasar (Part I)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-7144492366591733193</id><published>2008-12-22T17:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T20:04:22.676-08:00</updated><title type='text'>Nothingman</title><content type='html'>&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SVA-RUtOEpI/AAAAAAAAABQ/04amd095np0/s1600-h/Rain_man_02.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5282790830242665106" style="margin: 0px auto 10px; display: block; width: 320px; height: 218px; text-align: center;" alt="" src="http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SVA-RUtOEpI/AAAAAAAAABQ/04amd095np0/s320/Rain_man_02.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;strong&gt;Nothingman&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;Once divided&lt;br /&gt;nothing left to subtract…&lt;br /&gt;Some words when spoken&lt;br /&gt;can't be taken back&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walks on his own&lt;br /&gt;With thoughts he can't help thinking&lt;br /&gt;Future's above&lt;br /&gt;but in the past he's slow and sinking&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Caught a bolt of lightning&lt;br /&gt;Cursed the day he let it go&lt;br /&gt;Nothingman...&lt;br /&gt;Isn't it something?&lt;br /&gt;Nothingman...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;He once believed&lt;br /&gt;In every story he had to tell&lt;br /&gt;One day he stiffened&lt;br /&gt;Took the other side&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empty stares &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;From each corner of a shared prison cell&lt;br /&gt;One just escapes&lt;br /&gt;One's left inside the well&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;And he who forgets&lt;br /&gt;will be destined to remember&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Isn't it something?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nothingman...&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-7144492366591733193?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/7144492366591733193/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/nothing-man.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/7144492366591733193'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/7144492366591733193'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/nothing-man.html' title='Nothingman'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SVA-RUtOEpI/AAAAAAAAABQ/04amd095np0/s72-c/Rain_man_02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-3706591286953297212</id><published>2008-12-15T20:11:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T02:20:05.606-08:00</updated><title type='text'>Teroris Pasirkuda (Part III)</title><content type='html'>&lt;div&gt;Adalah sebuah keniscayaan, jika anda mengatakan sesuatu yang salah dihadapan mereka, maka pulanglah kalian ke negara asal kalian. Seorang teman baik saya yang bekerja di perusahaan minyak raksasa pernah mengalaminya. Salah menjawab lalu dipulangkan oleh pemerintah negara adidaya itu.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;"What is the purpose of your visit?"&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;adalah kalimat pertanyaan sakti yang akan muncul sebagai 'ibu' dari segala pertanyaan yang mengikutinya. Jika kalian tidak mempersiapkan jawaban jauh hari, maka bersiaplah untuk berperang secara psikologis dengan mereka.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya menjawab apa adanya. Tidak melebih-lebihkan, apalagi berbohong. Tapi yang menarik adalah, menjawab seorang petugas yag mungkin dilatih untuk terlihat 'curiga' dan membatasi senyum adalah keasyikan tersendiri. Terlebih petugas wanita ini ternyata berdarah Latinos, terlihat dari nama yang tertera di dadanya. Mulailah &lt;em&gt;psi&lt;/em&gt; war ia lancarkan, cara memenangkannya adalah berpikir bahwa dia tidak lebih cerdas dari saya...dan memang, itu adalah suatu kenyataan yang ternyata sangat mutlak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia menanyakan hal-hal teknis mengenai pekerjaan saya, yang saya yakin ketika saya jawab, ia sesungguhnya tidak paham tapi pura-pura paham. Dia menanyakan urusan saya dengan masalah lintas negara, maka saya menjawab sekenanya sesuai dengan pemahaman dia yang segitu-segitunya saja. Terbukti, dia tidak tahu kalau Indonesia bertetangga dengan Australia.&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"What has Australia got to do with the possibility of a border dispute with your country?"&lt;/p&gt;&lt;p&gt;are you kidding??? kata saya dalam hati&lt;/p&gt;&lt;p&gt;Sebuah pertanyaan dungu yang membuat saya sedikit mual untuk menjawab. Tapi pertanyaan demi pertanyaan berlalu, dan anehnya dia malah semakin curiga. Saya mulai khawatir, karena sudah 2 jam lebih saya masih disitu juga, sedangkan saya harus segera menuju connecting flight ke Houston.&lt;/p&gt;Entah kenapa tidak lama kemudian dia keluar dari ruangan lalu kembali lagi setelah 10 menit dengan membawa 2 gorilla yang lain. Jadilah pertarungan antara 3 orang dungu melawan satu pemuda dusun dari Pasirkuda yang kelelahan. Salah satu dari ketiga orang itu menunjukkan sesuatu pada saya. Sebuah dokumen yang menyatakan bahwa saya sudah mengunjungi beberapa negara yang masuk kedalam list negara paling dicurigai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Anda ngapain aja ke negara-negara ini berkali-kali ditahun sekian dan tahun sekian...?"&lt;br /&gt;Kata salah satu gorila itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dinas..." saya jawab singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mana ada dinas didaerah konflik?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tidak? tentara amerika saja dinas di negara konflik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, tapi anda bukan tentara!" dia mulai kepanasan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu berlalu, saya mulai merasa seperti copet Pasar Senen yang sedang diinterogasi polsek Jakarta Timur. Perdebatan berlangsung hangat, dan samar-samar saya sudah melihat Guantamo Bay di pelupuk mata haha...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan ketika salah satu dari mereka mengangkat telfon, saya menduga dia akan memanggil lagi petugas, mungkin orang NSA, alias sekelompok gorila yang agak intelek sedikit, saya mulai melancarkan senjata pamungkas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"wait...!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka menghentikan aktivitasnya, lalu menatap saya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I have a message from your government" lalu saya keluarkan surat sakti dari pemerintahnya sendiri yang menyatakan siapa saya. Mereka membacanya, lalu terdiam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Excuse me sir, may I call these people?" katanya seraya menunjuk beberapa list nama orang penting di lembaga yang sangat penting pula. Tidak lama kemudian terdengar si gorilla itu seperti dimarahi oleh orang yang tertera di surat itu, tampak dari cara dia menjawab telfon dengan nada yang rendah dan kebanyakan 'sorry' nya. Tidak lama kemudian, dia masuk dengan muka agak merah dan langsung berdiskusi dengan teman-temannya. Mereka kelihatan grogi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"err...I really am sorry sir, you didn't confirm us that you...."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih mengharukan lagi haha..salah satunya menawarkan kopi...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa sih surat itu? saya tidak dapat menceritakannya disini, tapi surat itu erat kaitannya dengan sejarah saya ketika saya dinas di salah satu lembaga pemerintahan milik mereka, dan kebetulan sekali lembaga itu berada dibawah Presiden Amerika Serikat secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya diperbolehkan pergi dengan tenang. Lalu kalian pasti bertanya kenapa tidak dari awal saja saya keluarkan surat sakti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wah cuma saya yang tahu. Orang Pasirkuda juga boleh dong sekali-sekali mengetes kehebatan orang Amerika hehe.........&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata "teroris Pasirkuda" agak lebih baik lah sedikit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt; &lt;/p&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;~end&lt;br /&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-3706591286953297212?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/3706591286953297212/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-iii.html#comment-form' title='6 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3706591286953297212'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/3706591286953297212'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-iii.html' title='Teroris Pasirkuda (Part III)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>6</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-1635151012742408663</id><published>2008-12-14T17:57:00.000-08:00</published><updated>2009-01-22T02:17:24.437-08:00</updated><title type='text'>Teroris Pasirkuda (Part II)</title><content type='html'>Dua gorilla berseragam hitam-hitam dan terlihat sangar. Mungkin kebanyakan makan Mc Donald hehe...lucunya yang satu pakai kacamata hitam padahal berada di dalam ruangan. Mungkin untuk mengecoh orang-orang yang dicurigai yang menyangka dia sedang tidak memerhatikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Follow the yellow line..." kata gorila yang ber sun glasses, Boro-boro ada tambahan "please" nya, kalau di pasirkuda orang ini sudah wafat dari kemarin.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat kebawah, ah ternyata benar-benar ada garis kuning yang memanjang dan kalau diikuti ternyata menuju sebuah ruangan, mungkin ini tempat interogasi. Kalau saya pikir sih lumayan bodoh juga, kenapa pakai garis kuning kalau saya toh akhirnya dikawal juga oleh mereka menuju ruang interogasi...mending garis kuningnya dibuat kotak terus dikasih net ditengahnya, jadilah lapangan bulutangkis hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"dasar kehed sia" kata saya perlahan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry?" kata salah satu petugas yang mengawal saya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"No..I said Im just tired" jawab saya sekenanya. Dalam hati, kapan lagi saya bisa memanggil dua badut ini dengan istilah 'protokoler' khas Pasirkuda country.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian tibalah saya disebuah ruangan terpisah, mungkin sekitar 500 meter dari tempat pengecekan imigrasi tadi. Ruangan itu tidak berpintu, ada kursi yang berderet, dideretan pertama tampak sepasang suami istri berwajah Arab, dan satu orang lagi di baris kedua, seorang pemuda dan anehnya saya perhatikan, dia memegang paspor Kanada. Tapi saya tak begitu mengindahkannya. Selama menunggu disitu terlihat para petugas dengan size XL berseliweran. Samar-samar saya perhatikan nama mereka yang tertera didada. Kalau tidak salah nama-nama yang muncul adalah yang berbau latinos dan hanya segelintir yang berbau Amerika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mr Sukendar...follow me please" sorang petugas berbadan tambun memanggil saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya terbangun dari lamunan, ah orang ini masih sopan, dia mengggiring saya kesebuah ruangan, mungkin sekitar 3 x 3 meter dan didalamnya ternyata sudah ada seorang petugas wanita yang cemberut. Saya katakan cemberut karena sepanjang interogasi itu, seingat saya, petugas ini tidak pernah tersenyum barang sekalipun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebelum mengatakan apa-apa, petugas ini membulak-bailikan paspor dan secarik dokumen yang telah saya isi sebelumnya, lalu dia mulai bicara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"From Indonesia huh?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya atas pertanyaan tersebut saya gatal menjawab seperti ini,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan mbak, saya dari Nigeria"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba baca lagi paspornya mbak, siapa tau terbalik"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin dia ingin menaikkan wibawanya dengan sedikit intimidasi, padahal malah jadi kelihatan dungu. Saya yakin, dia pasti berpikir saya datang dari negara antah berantah yang tidak ada listriknya, dan orang-orangnya masih pakai koteka kalau bepergian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dia menyuruh saya mengeluarkan dompet saya, dan saya disuruh mengeluarkan seluruh isinya. Kebetulan hanya ada tidak lebih dari seratus dolar, karena dalam perjalanan dinas saya dibekali gold card untuk menarik uang di ATM sini jadi tidak perlu repot-repot membawa dolar. Disela itu ada juga uang sisa jajan di Jakarta, saya lupa jumlahnya cuma ada beberapa lembar uang seribuan dan uang seribuan itulah yang dia cek pertama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"This is a lot isn't it?" katanya yakin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mam, even if you had 5 more of those and convert it to dollar, it's not going to get u a biscuit, hehe" kata saya mencoba mencairkan suasana. Tapi petugas itu malah diam saja, dingin, mengingatkan saya pada kepala sekolah SMA saya dulu Mrs. Pierce, yang menurut saya cuma tersenyum sekali seumur hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu dimulailah komedi 3 jam yang membawa saya pada sebuah petualangan yang akan saya kenang selamanya...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-1635151012742408663?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/1635151012742408663/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-ii.html#comment-form' title='8 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/1635151012742408663'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/1635151012742408663'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-ii.html' title='Teroris Pasirkuda (Part II)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>8</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-4700783820654709053</id><published>2008-12-12T04:24:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T23:37:28.310-08:00</updated><title type='text'>Teroris Pasirkuda (Part I)</title><content type='html'>Kira-kira orang Indonesia dikenal oleh dunia seperti apa? Ramah, murah senyum, jorok, korup, atau yang lainnya? Saya pikir setiap orang punya perspektif yang berbeda-beda, tapi ada istilah common perspective alias pandangan umum yang tumbuh menjadi semacam kesepakatan sosial antar satu individu dengan yang lainnya. Proses terjadinya lebih sering diciptakan dari apa yang mereka dengar dan mereka lihat di media massa. Sudah pasti kebanyakan tidak pernah berinteraksi dengan subjek nya karena berapa persen sih misalnya orang Amerika yg pernah datang ke Jakarta? Paling kurang dari satu persen. Sisanya Cuma melihat di TV, itu pun kebetulan.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Long stories short, saat ini banyak yang menilai kita sebagai bangsa teroris. Marah? Saya rasa tidak perlu karena tidak akan menyelesaikan masalah. Tapi saya ingin berbagi cerita mengenai pengalaman saya di interogasi oleh Home Land Security Amerika Serikat selama hampir tiga jam. Saya tidak ingat semuanya tapi kurang lebih akan saya ceritajan dibawah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum saya bercerita tentang kejadian di LAX (Los Angeles International Airport), saya ingin cerita dulu penggalan pengalaman saya di Narita Airport Tokyo. Setelah saya cek in, saya bergegas menuju terminal yang dituju. Saya agak mulai sebal dengan international travel saat itu, karena paspor Indonesia itu membuat saya sangat dicurigai, padahal dari setelan saja tidak ada seram-seramnya. Ok lah, jujur aja, saya mulai jenuh dengan pertanyaan “What is the  purpose of your visit?” sekarang mana ada sih orang yang menjawab seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ini pak, cuma mau meledakan gedung parlemen”&lt;br /&gt;“Gak banyak, paling menghabisi orang-orang sini, terus pulang”&lt;br /&gt;“mau ketemu kepala yakuza”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pathetic huh?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika berada di Narita yang bertanya bukanlah seorang petugas custom, tapi petugas airline yang berdiri diterminal. Ketika yang lain dibiarkan berlalu sambil menunjukkan paspor, badut itu malah memegang saya. Aneh sekali, karena biasanya penumpang itu ditanya saat berada di negara tujuan. Kebetulan saya dalam perjalanan ke Amerika Serikat. Dicengkramnya bahu saya, terus dengan bahasa Inggris yang sangat minim dan tidak jelas, dia menanyakan tujuan saya ke Amerika...karena kesal, saya jawab sekenanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Im going to see your mother…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;hahaha....dia cuma bengong-bengong saja karena saya pikir toh dia tidak paham apa yang saya katakan, dan sayapun terus bergegas menuju pesawat. Seorang penumpang yang saya perkirakan warga negara Amerika yang ada disebelah saya juga terlihat tersenyum mendengar jawaban saya. Ok, mungkin saya gila, karena bisa saja saya ditangkap, tapi sumpah pada saat itu saya sudah pusing ditanya seperti itu ditengah internasional travel yang menjenuhkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau di LAX, kejadian seperti ini hampir berulang. Karena sudah berkali-kali orang-orang Homeland Security nya sudah mengenal wajah saya dan suka tersenyum-senyum.  "Im sorry sir, we're just doing our job" katanya tenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi akan saya ceritakan pengalaman pertama kali saya harus berurusan dengan mereka. Sebuah pengalaman yang akan membekas dalam petualangan hidup saya, dan membangkitkan jiwa "ke-pasirkuda-an" saya haha....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awal dari pengalaman ini adalah ketika saya dihadang dua gorila yang besar-besar ....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(BERSAMBUNG)&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-4700783820654709053?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/4700783820654709053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-i.html#comment-form' title='4 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4700783820654709053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4700783820654709053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/teroris-pasirkuda-part-i.html' title='Teroris Pasirkuda (Part I)'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-4872882367869672303</id><published>2008-12-08T17:27:00.000-08:00</published><updated>2009-01-19T23:37:46.440-08:00</updated><title type='text'>Bandung's Last Flower</title><content type='html'>Kalau anda kebetulan berada di kota Sydney dan naik MRT diseputar City Circle, berhentilah di stasiun St James Park. Keluarlah melalui exit bagian utaranya yang menghadap ke Sydney Harbor. Seberangilah jalan yang berada tepat di mulut exit itu, anda akan menjumpai sebuah taman yang ditumbuhi pepohonan yang rindang dan hamparan rumput nan hijau. Telusurilah jalan setapak menuju ke arah barat, tepat diujungnya, seberangilah jalan yang memisahkan taman itu dengan gedung-gedung tua yang berderet dengan megah. Diujung sebelah kiri ada sebuah gedung yang tampak lebih anggun dibanding yang lainnya, dengan arsitektur gothic yang menawan. Itulah tempat saya dulu, menghabiskan hari-hari sepulang sekolah, The Sydney Central Library.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman saya dulu tahu, disitulah saya sering menghabiskan waktu. Kata mereka saya mengidap Schizophrenia, padahal saya cuma rindu pada tanah air. Lalu apa hubungan perpustakaan itu dengan Indonesia, jawabannya tidak lain adalah karena di perpustakaan itu, terdapat berbagai artikel dan foto-foto yang berkaitan dengan Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu rindunya saya pada tanah air, bak orang yang dahaga akan air dihamparan pasir yang gersang, sebuah foto bukit di pulau jawa saja ibarat air dingin yang jatuh dari langit, menyejukan kalbu yang ditimpa rindu tak terperi. Pada saat itu internet belumlah memasyarakat, foto-foto dari archive perpustakaan itulah yang menjadi jembatan kerinduan saya pada tanah air saat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun hari yang tak terlupakan itu di musim panas menjelang liburan sekolah, tepatnya hanya beberapa bulan menjelang kepulangan saya ke tanah air, saya membuka buku-buku di section &lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;South East Asia, &lt;/span&gt;mata saya tertuju pada sebuah buku yang mengilustrasikan pulau Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian, tenggelamlah saya dalam keasyikan yang dalam, sebuah ketertarikan yang teramat sangat sederhana, namun tak terlukiskan dalam kata-kata. Tak lama lagi saya akan pulang, dan tepat pada saat itu mata saya tertuju pada sebuah sub section, tentang sebuah kota yang dipagari oleh gunung-gunung nan menjulang, orang menyebutnya kota kembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman sesama pelajar disini pernah tenggelam dalam sebuah obrolan yang mengasyikan mengenai Bandung. Salah satu dari mereka pernah bilang,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Why it was renown as the flower city, had nothing to do with flowers...it's the beauty of the Bandung ladies that resemble it"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya suka tersenyum kalau mengingat itu, karena bapak saya besar dan sekolah di Bandung, saya sendiri memiliki saudara yang tersebar di kota itu, benar sekali adanya, sejauh ingatan saya, no cities can beat the beauty of Bandung girls.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-WEIGHT: bold"&gt;15 Tahun Kemudian...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I love you too kang.." adalah barisan kalimat dari seorang gadis Bandung yang menghentikan detak jantung saya beberapa saat, disaat mahligai yang saya bangun berada di jurang kehancuran, menyisakan puing-puing yang berserakan, memanas seperti bara yang semakin merona.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak akan ada orang didunia ini yang dapat menuliskan nasibnya sendiri, merangkainya menjadi sebuah kata-kata lalu mengarahkannya sekehendak hati dan akal sehatnya. Pertemuan saya dengan dirinya tidak pernah diawali dengan niat yang tertuliskan. Dia seperti seorang peri yang datang lalu menghilang di penghujung hari, seperti air kembali ke lautan, seperti gelap kembali ke malam, dan seperti hijau kembali ke dedaunan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adalah suatu saat, ketika ia duduk hanya dipisahkan oleh sebuah meja kecil, tak sadar pula ia saya perhatikan, very attractive, energetic, and spontaneous, and above all adalah cara dia menundukkan pandangannya ketika saya menatapnya, menyembunyikan sepasang mata yang indah. Senyum dan tawanya yang renyah menghempaskan tembok-tembok yang menjaga relung hati dan ketabuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terhenyak saya dimalam-malam yang sunyi di kota hujan, merenung sendiri ditengah kebuntuan, defeat and humiliation. Apakah ini ya Allah, ujian terbesar yang akan pernah kau berikan, atau inikah jawaban dari doa yang tak henti akan sebuah mahligai yang kokoh dan dilandasi oleh cinta yang menyejukkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Disini, dihamparan teras rumah ini, bayangannya hadir. No one would have predicted that the city of flowers will be so phenomenal to me as it is today. Long list of brothers and sisters suddenly emerged from this one city that I hardly recognize.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;If this is a dream, don't let me be awake, but if I'm awake, don't let me fall asleep. Adalah ungkapan hati yang jujur dari dalam diri saya saat ini. Tapi, waktulah yang akan menjawabnya. Tapi untuk saat ini, kota itu menyimpan sepasang mata yang indah, yang selalu menanti, and she will remain to me, Bandung's last flower...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;span style="FONT-STYLE: italic"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-4872882367869672303?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/4872882367869672303/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/bandungs-last-flower.html#comment-form' title='13 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4872882367869672303'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4872882367869672303'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/bandungs-last-flower.html' title='Bandung&apos;s Last Flower'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>13</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-6390246990826370994</id><published>2008-12-02T19:27:00.000-08:00</published><updated>2008-12-02T20:55:37.669-08:00</updated><title type='text'>Does she...</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;Does she notice...at that one moment, when we sat by the bench only inches apart, I never even cared what she was saying? for I was dumbfounded, lost my words and breath.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I couldn't have challenged the way she stares at me, not even a glance. I would've lost anyway even if I did...&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Why I would go that far just to hold her, does she notice? at all? &lt;/span&gt;  &lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It's cold now, don't mind the fallen leafs and drizzle...I've fallen too many times anyway, it takes great falls to turn one into a man. For I am now, but still...can't beat those eyes, endlessly crushing me. Ever so gorgeously created...&lt;/span&gt;&lt;span style="font-family:georgia;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;All the forts and bridges suddenly crumbles, weakened...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color: rgb(255, 0, 0);"&gt;Rain City ~ Dec 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-6390246990826370994?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/6390246990826370994/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/does-she.html#comment-form' title='5 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/6390246990826370994'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/6390246990826370994'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/12/does-she.html' title='Does she...'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-57944207169565946</id><published>2008-11-30T17:39:00.000-08:00</published><updated>2009-01-20T00:15:59.595-08:00</updated><title type='text'>Cabe Bandung Vs Cabe Texas</title><content type='html'>Bagaimanakah mengukur rasa pedas menurut lidah orang-orang dari mancanegara. Apakah rasa pedas di lidah orang Indonesia tidak ada artinya dibanding rasa pedas orang Mexico? atau sebaliknya? cerita yang akan saya tulis ini sedikit mengena pada rasa pedas itu sekaligus menyerempet kebanggaan seseorang terhadap kedigdayaan bangsanya bukan saja dari segi ekonomi dan militer, akan tetapi juga akan rasa pedas yang menurutnya tak tertandingi di seantero dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di pertengahan 2007, seorang petinggi dari Houston Martin Thaler, yang juga merupakan teman dekat saya ketika di Houston dulu melakukan 'Tour of Duty' ke Indonesia. Karena memang dasarnya seorang petinggi, maka dia punya hak yang tak terbantahkan mengenai siapa yang harus mendampinginya selama di tanah air. Tidak jauh dari dugaan saya memang, ketika disuatu pagi salah satu Vice Presiden perusahaan memanggil saya dan mengatakan bahwa Martin cuma ingin ditemani oleh saya selama di Indonesia untuk mengontrol beberapa fasilitas on shore dan off shore perusahaan ini.&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;span id="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Saya tidak begitu keberatan akan tugas tersebut, tapi yang membuat keadaan berbeda adalah ketika di Houston dulu Martin belum menjadi 'petinggi' alias masih bisa saya ajak nongkrong di restoran saat weekend dan belum ada rasa canggung terhadapnya. Kini, tentu saja sudah berubah, tapi tak apalah, toh memang dia yang meminta bukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian, tibalah Martin di Indonesia, masih dengan perawakan Texas-nya yang gempal lengkap dengan aksennya yang kental itu. Ah, masih seperti yang dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasib berkata lain. Ketika akan melakukan inspeksi ke Laut Cina Selatan, pesawat dari Halim penuh. Maka kita punya tiga hari yang kosong yang akan terbuang. Atas saran VP, akhirnya saya memutuskan untuk mengak Martin jalan-jalan ke Bandung via Ciater.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya tidak menyangka Indonesia punya jalan tol sepanjang ini.." katanya ketika kita bergerak di tol Cikampek menuju Cipularang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya cuma mesem-mesem saja, ya maklumlah, orang Amerika, saya pikir begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tiba di daerah Ciater tepat sebelum jam makan siang dan menghabiskan waktu di kawah tangkuban perahu kemudian setelah puas kami pun bergerak untuk mencari makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu mau makan barat atau Indonesia?" tanya saya pada Martin. Padahal saya tidak mengenal daerah itu sama sekali, saya cuma berharap ada Mc Donald atau KFC yang bisa menyelamatkan makan siang orang Texas ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Boleh lah kita coba makanan lokal, itung-itung berpetualang hehe.." Martin kelihatannya tidak begitu mempermasalahkannya. Ah sukurlah..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya memutuskan untuk makan di sebuah restoran Sunda yang kelihatannya sangat representatif dan bersih. Saya suruh supir untuk masuk kepelataran parkir, kami berdua pun masuk ke restoran itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena berada di sebuah resoran, maka pembicaraanpun tak jauh dari soal makanan. Saya tuntun orang Texas itu untuk memesan makanan yang kira-kira pas dilidahnya seperti ayam goreng, masakan yang ada sapinya (orang Texas kalau makan hampir selalu harus ada daging sapinya). Saya memesan makanan kesukaan saya disamping ayam, yaitu petai yang digoreng dan sambal terasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hidangan sudah ada didepan mata termasuk tahu goreng beserta cabai rawitnya, saya memperingatkan Martin untuk tidak menyentuh segala sesuatu yang berbau cabe, karena saya bertanggung jawab atas keadaannya disini. Bagaimana kalau dia tiba-tiba sakit perut? terus pingsan karena rasa pedas cabe rawit yang mana tahan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"ah..gak masalah" katanya lantang setelah saya peringatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman, masak kamu lupa, di Texas cabe itu biasa kami kunyah seperti kamu mengunyah nasi haha..." katanya meyakinkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Coba kamu lihat cabe itu" sambil menunjuk ke cabe rawit yang mendapingi tahu..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu cuma seujuung kuku dari size cabe jalepano yang lebih besar dari ini" katanya sambil memegang ibu jarinya yang memang jumbo untuk memperagakan betapa besarnya cabe Texas yang dia maksud.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok, baiklah kalau kamu memaksa, tapi saya tidak bertanggung jawab yah"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenanglah teman, jangan khawatir, sekarang mana tadi cilli paste (sambel cobek) yang kamu maksud?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Martin menuangkan bukan satu sendok sambal terasi, tapi beberapa! duh, memangnya dia pikir ini saos tomat! yang lebih parah, ia adukkan sambal itu dengan nasi dan mulailah petualangnnya mencicipi cabe rawit made in Bandung itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama kemudian dia cicipi juga cabe rawit beserta tahunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman, ini adalah cabe terkecil yang pernah saya lihat, harusnya saya bawa pulang untuk suvenir haha.." katanya. Saya cuma tersenyum, lalu meneruskan makan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akhirnya berkonsentrasi penuh terhadap makanan karena asyik dengan petai dan sambal. Tapi tidak beberapa lama kemudian, tiba-tiba saya menyadari wajah Martin semakin memerah dan ia sudah meminum air es lebih dari tiga gelas. Dia terbatuk-batuk dan bibirnya seperti agak bengkak dan memerah. Saya mulai khawatir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Martin, kamu gak apa-apa kan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin mengibas-ngibaskan tangannya untuk menunjukkan bahwa dia baik-baik saja&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gak apa-apa teman, saya hanya tersedak"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Benar kamu cuma tersedak?" tanya saya lagi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iyah...makanan ini agak asing, jadi mulut saya belum terbiasa, oh tolong pangilkan waiter saya minta tambahan air dingin!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secepat itu pula saya panggil pelayan untuk membawakan satu jug besar air dingin beserta es nya. Belum juga pelayan itu menaruh jug beserta gelasnya, benda itu langsung disambar Martin, dan ia langsung minum dari jug. Saya cuma terpana dan kembali mengulang pertanyaan saya sebelumnya untuk memastikan orang Texas ini baik-baik saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak apa-apa, mungkin juga saya kepanasan, udara disini membuat kita terus berkeringat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ok lah, mungkin juga cuaca panas, tapi ini lembang! dan cuaca lumayan adem hari itu. Tapi jauh dilubuk hati saya yang paling dalam, saya merasa orang ini kepedasan. Dia disengat oleh cabe rawit made in Bandung yang dasyat. Jujur saja, saya yang makan sambal terasi itu juga kepedasan, tapi reaksi saya sedang-sedang saja karena sudah terbiasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cabe nya boleh saja kecil dan kurang meyakinkan, tapi kalau sudah dikunyah oleh orang yang belum pernah merasakannya, tamatlah dia. Cabe jalepano yang jumbo pun tidak ada apa-apanya kalau dibanding cabe yang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam perjalanan menuju Bandung dari Lembang, Martin lebih banyak diam, mungkin masih lapar karena saya lihat dia tidak menghabiskan makanannya. Dia dikalahkan ego-nya sendiri. Lalu saya pecahkan keheningan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, nanti kamu akan aku ajak belanja di Bandung, kita ke tempat-tempat yang eksotis, dan malamnya kita diner dimanapun kamu suka, mungkin seperti yang tadi Martin?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Martin menoleh kearah saya saat itu juga, lalu menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"nggak lah, kita cari McDonald saja..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;em&gt;&lt;span style="color:#ff0000;"&gt;&lt;strong&gt;DIS - Bandung sometime in June 2007&lt;/strong&gt;&lt;/span&gt;&lt;/em&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-57944207169565946?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/57944207169565946/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/11/cabe-bandung-vs-cabe-texas.html#comment-form' title='7 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/57944207169565946'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/57944207169565946'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/11/cabe-bandung-vs-cabe-texas.html' title='Cabe Bandung Vs Cabe Texas'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>7</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-2960967723812610041.post-4996790716430796825</id><published>2008-11-27T17:35:00.000-08:00</published><updated>2008-12-09T20:03:21.289-08:00</updated><title type='text'>The Beginning</title><content type='html'>Can a man write his own destiny?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;It was a question poised by a friend on a beautiful evening by the Chao Phraya River in Bangkok. The lights from buildings nearby reflects on the water flow down below creating a fantastic crystal like movement, then it flashes twinkling lights under the shimmering moonlight.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The evening was too beautiful to describe, and such a question suddenly became all too sentimental which does require sentimental answer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I had never planned my life, unlike the mighty Chao Phraya that is shaped in each and every turn and twist, then the water helplessly ends in the Gulf of Thailand and into the South China Sea. I never knew what I've always wanted to be.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;One thing for certain, it has been a fantastic journey that began in small village on the foot of the Salak mountain, a journey that took me to major corners of the world leaving stories behind, memories and 'life' as you'd call it, great friends and 'counterparts' in Sydney, Bangkok, Washington, Houston, Singapore, Jakarta, and of course the rain city.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;The stories will be kind to me, for I intend to write it...&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/2960967723812610041-4996790716430796825?l=canaryroad.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://canaryroad.blogspot.com/feeds/4996790716430796825/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/11/can-man-write-his-own-destiny-it-was.html#comment-form' title='9 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4996790716430796825'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/2960967723812610041/posts/default/4996790716430796825'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://canaryroad.blogspot.com/2008/11/can-man-write-his-own-destiny-it-was.html' title='The Beginning'/><author><name>Dudi Irawan S</name><uri>http://www.blogger.com/profile/04202510644096724639</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='19' src='http://2.bp.blogspot.com/_Qxkgf0kA1fg/SS-PNEoAhPI/AAAAAAAAAAk/Us2wnSdIptI/S220/duditea.BMP'/></author><thr:total>9</thr:total></entry></feed>
